Tradisi Kabupaten Karimun dalam menyambut 10 malam terakhir bulan Ramadhan dengan mengadakan Festival lampu colok. COLOK didalam bahasa melayu karimun adalah alat penerang, masyarakat melayu memberi nama colok itu dengan sebutan pelite atau cangkok yakni sejenis lampu teplok yang menggunakan sumbu kompor memakai minyak tanah sebagai bahan bakar penerangnya.
Menurut sejarah yang tercatat, dahulu kalanya masyarakat Melayu di Provinsi Kepulauan Riau menggunakan colok sebagai penerangan sehari-hari yang diletakkan didepan pintu rumah, dan berguna menemani disaat anak-anak pergi mengaji dan belajar didalam kegelapan malam, penerangan colok ini sangat berguna disaat aktivitas masyarakat berada diluar terutama bagi nelayan yang akan pergi melaut.
Seiring dengan berjalannya waktu, sebagai bentuk penghormatan terhadap tradisi turun temurun, masyarakat Melayu terutama menjelang penghujung bulan Ramadhan menggunakan penerangan colok ini sebagai hiasan didepan rumah,terutama dalam menghadapi malam “lailatul qadar”, aneka bentuk colok yang dibuat masyarakat dengan menggunakan bahan kaleng minuman bekas, botol kaca minuman, bambu yang diberi sumbu sampai dengan colok yang dibuat khusus seperti tabung menggunakan bahan baku seng dan alumunium.
Tradisi Festival lampu colok dimulai setiap tanggal 27 Ramadhan sampai menjelang 1 Syawal, yang biasa disebut malam 7 Likur, didalam tradisi ini seluruh komponen masyarakat, khususnya pemuda melayu karimun bergotong royong membangun menara colok, bahan baku pembuatan berupa kayu bloti, papan, besi, paku, kawat yang semuanya didapatkan dari swadaya masyarakat.
Lampu colok yang dibuat masyarakat diperuntukan buat festival biasanya dari kaleng alumunium sisa bekas minuman, dengan memakai sumbu tali goni serta tatakan/dudukan yang berupa pengait dari kawat yang diletakkan disisi kaleng. Pada beberapa jenis menara colok yang ada, bentuk menara yang paling sederhana membutuhkan lebih kurang 500 kaleng colok dan menara paling besar kadang-kadang membutuhkan lebih dari 1000-1500 colok, apabila disuatu wilayah ada 5 menara besar, maka bahan bakar berupa minyak tanah bisa menghabiskan 3-4 drum dalam satu malam penyelenggaraan festival.
Besarnya animo masyarakat Melayu Kepulauan Riau Khususnya Karimun, terutama masyarakat yang pulang merantau kekampung halaman setahun sekali untuk berlebaran dan mengikuti festival ini, Pemerintah Daerah Kabupaten Karimun telah mensupport festival colok ini sebagai agenda tahunan tujuan wisata budaya daerah semenjak tahun 2000 hingga sekarang. Bentuk konkrit didalam mendukung acara ini dengan memberikan bantuan dana untuk kegiatan serta melakukan memperlombaan antar kelurahan bahkan sampai tingkat Kecamatan.
Perlombaan festival colok yang akan dilaksanakan memiliki karakteristik tema perlombaan dan juga dengan memperhatikan tema masing-masing menara yang akan dibangun, seperti bentuk mesjid, kubah, gapura, kaligrafi ayat suci Al-Quran maupun bentuk-bentuk abstrak, tulisan bahkan tema tokoh-tokoh. Selain komposisi keserasian menara dan kesempurnaan cahaya penerangan serta keindahan komposisi menara yang dibangun menjadi penilaian yang wajib untuk menentukan kemenangan disetiap lomba.
Puncak penilaian dari juri pada kegiatan festival ini dilakukan pada malam lebaran bersamaan dengan diadakannya acara pawai ta’ruf keliling dan pesta kembang api, pengumuman pemenang festival lampu colok dilaksanakan esok hari setelah usai shalat Idul Fitri.
Semoga saja pelaksanaan event pelestarian wisata budaya daerah ini semakin tetap dilestarikan.
Tags: zapinradio-kepri
1
0