|
Tajuk SuaraRadio :
Bangsa Tempe Krisis Kedelai
Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia ( Gakoptindo) menyatakan akan mogok produksi mulai 25 hingga 27 Juli 2012. Bisa jadi, makanan rakyat ini akan hilang dari pasaran. Utamanya didaerah Jabodetabek, Bandung, dan Banten. Mereka melakukan mogok karena tingginya harga kedelai sebagai bahan baku tempe. Saat ini harga eceran kedelai mencapai Rp 8.000 per Kg.
Negeri ini boleh dikata sebagai bangsa yang tidak bisa lepas dari tempe alias “bangsa tempe ”. Namun, selama lima tahun terakhir ini, industri tempe dan tahu dihadang masalah tingginya harga kedelai. Ironisnya, pemerintah kurang peduli terhadap pengusaha tempe yang nasibnya sedang dipermainkan oleh mafia importir kedelai. Kebijakan impor kedelai yang diterapkan ternyata tidak menyeimbangkan pasokan kedelai di dalam negeri.
Tekanan kedelai impor terhadap industri tempe dan tahu mulai terjadi ketika pemerintah menghapus tata niaga kedelai yang semula dilakukan oleh Bulog lalu dialihkan kepada importir umum. Dengan bebasnya impor kedelai dan tidak adanya proteksi mengakibatkan harga kedelai di pasar domestik sering mengalami tekanan dan kelangkaan. Amburadulnya impor kedelai juga telah menghancurkan usaha pertanian kedelai di dalam negeri. Kondisi tersebut semakin memperkuat jaringan mafia importir kedelai untuk melambungkan harga seenaknya.
Selama ini gelombang impor kedelai juga tidak disesuaikan dengan masa panen kedelai lokal. Sehingga sangat merugikan petani.Jalur distribusi impor kedelai asal Amerika Serikat, Argentina, dan Brasil hingga kini masih dalam cengkraman mafia importir di Jakarta.Mafia itu memiliki akses langsung dengan petani di negara asal kedelai impor tersebut. Apalagi Amerika Serikat yang merupakan pengekspor kedelai terbesar di dunia memberikan insentif atau kemudahan bagi importir kedelai Indonesia. Insentif tersebut semakinmemperkuat cengkeraman mafia, dan sekaligus mencekik petani kedelai di tanah air.
Kondisi petani kedelai seperti pepatah, sudah jatuh ditimpa tangga. Dalam kondisi tekanan kedelai impor, ternyata petani semakin kesulitan mencari benih unggul dan mahalnya pupuk dan obat-obatan. Fakta menunjukkan bahwa penggunaan benih bermutu varietas unggul kedelai di tanah air masih sangat sedikit. Sebagian besar petani masih menggunakan benih asal-asalan. Masalah budidaya kedelai sebenarnya sudah menjadi program lintas kementerian dengan biaya yang cukup besar, tetapi hasilnya hilang begitu saja ditiup angin. Mimpi pemerintah untuk swasembada kedelai telah kandas.
Paradoks bangsa tempe yang tengah didera krisis kedelai harus segera diatasi. Tempe yang merupakan khazanah kuliner asli Indonesia harusnya ditangani secara optimal. Mengingat sektor industri pangan domestik ini telah memberikan kontribusi ekonomikerakyatan yang sangat besar. Ada bahaya yang mengintip terkait dengan krisis kedelai. Yaitu langkah produsen tempe yang terpaksa menggunakan bahan baku alternatif non-kedelai. Juga menggunakan campuran bahan baku yang bisa mengurangi nilai gizi dan cita rasa. Langkah itu jelas sangat riskan karena bisa membahayakan kesehatan.
( Salam Jabat Erat, Hemat Dwi Nuryanto, Founder Suararadio.com )
|